(Cerita ini bagian ke 5 dari tulisan yang saya buat...)
Terik
siang ini seakan tak memberi ruang untuk angin berhembus sedetikpun. Sangat
panas, bahkan terlalu panas untuk diri yang terbiasa dengan dinginnya hari. Tak
membiarkan keringat mengalir dengan bebasnya, tangan ini pun langsung
mengenyahkannya dari permukaan kulit yang semakin kusam. Langkah ini pun terus
berjalan sangat cepat, sampai saya bingung menamakan ini berjalan atau berlari.
Sampai di tujuan, ribuan pemuda dengan kerakusan cita bercampur dengan ribuan
orang lainnya yang telah menggunakan seragam polisi dan turut serta dalam pertarungan ini.
Ruangan
ini pun seakan risih menerima ribuan orang yang berebut untuk mencari angin,
karena terlalu pengap untuk ribuan orang yang mengharap kelulusan. Tidak kurang
dari 50.000 pemuda dari berbagai daerah mencoba mengejar citanya untuk menjadi
seorang taruna kepolisian Republik Indonesia. Termasuk diri ini yang
meninggalkan harapan lain untuk menikmati indahnya persaingan di Perguruan
Tinggi Negeri.
Sebelum
mengawali pilihan dengan cerita mencapai perjuangan mendapatkan satu nomor peserta
untuk mengikuti tes calon taruna kepolisian, saya adalah salah satu siswa yang
ingin mengejar cita diantara dilemanya pilihan. Hari yang tak membiarkan saya
tenang sedikitpun, hari yang membuat saya harus berfikir sekeras mungin.
Memilih yang telah ada di depan mata atau memilih cita yang masih jauh dari
keta harapan. Hari pertama tes taruna akpol bersamaan juga dengan saya harus
daftar ulang kelulusan mahasiswa bebas tes di Teknik Industri. Kebahagiaan
diantara kebimbangan. Di saat saya yang mengingkan mengejar cita dan keharusan
saya harus meninggalkan hasil akademik sebagai mahasiswa yang telah saya raih
selama mengenyam pendidikan 12 tahun.
Pilihan
saya jatuh pada keinginan saya meraih cita, ikut tes taruna akpol dan meninggalkan
harapan menikmati persaingan diantara ribuan mahasiswa lainnya. Cita-cita
seakan jawaban dari rinduan akan kemenangan sampai saya harus melupakan yang
lainnya. Cita-cita seakan jawaban untuk menaikkan derajat keluarga, sampai saya
harus melupakan bahwa tanpa cita-cita seseorang tetap memiliki masa depan.
Diantara egonya diri dan keinginan tidak memberatkan keluarga yang cukup lama
berjuang.
Cita-cita
seakan tersenyum karena terpilih menjadi prioritas diantara harapan yang lain.
Dengan angukuhnya cita-cita itu menggetarkan diri dengan sayupan kata-kata idah
“bayangkan seorang taruna akpol dengan
seragamnya berjalan diantara kawan yang lain”, “bayangkan betapa bahagianya
keluarga melihat anak bungsunya berhasil meraih cita”, “lihat semua orang
seakan terbungkam melihat pemuda yang kemarin hanya terendahnkan”.
Cita-cita tak hentinya meyakinkan diri, bahwa inilah awal dimana masa depan
akan dimiliki.
Ruangan
ini seakan semakin memberi ruang, satu persatu nomor yang disebutkan bersamaan
dengan beranjak perginya langkah-langkah yang menanti lama. Mereka yang keluar
ruangan dinyatakan gugur, kami yang sisa di dalam ruangan dinyatakan lanjut ke
tahapan selanjutnya. Sebuah keyakinan baru saya lulus pada tes pertama taruna
akpol 2006, yaitu pada tes psikotes. Terlalu jumawa diri, terlalu yakin,
padahal ini baru tahapan awal yang tak memastikan sepersenpun kemenangan untuk
mecapai cita. Setidaknya bibir ini pernah mengerucut keatas, tersenyum bangga
bisa mengalahkan ribuan orang lainnya. Bibir ini pun tak hentinya mengecup
nomor kebanggan, meki hanya sehelai kertas kunging bertuliskan nama dan nomor
pendaftaran saya, 9910. Nomor yang saya harapkan bisa melaju hingga pertarungan
terakhir. Nomor yang saya inginkan menjadi suatu peruntungan. Meski sebenarnya
sayang memberi peruntungan, karena peruntungan tak akan pernah lebih baik dari
pertarungan.
Telfon
genggam pun seakan tak ingin tertinggal dari gemetarnya diri ini merasakan
kemanangan pertama. Telfon ini pun keluar dari saku, dan saya mengetik dengan
cepatnya, menulis tulisan kebahagian bertulisakan bahwa aku lulus tes
pesiokotes akademi kepolisian. Sebuah keinginan untuk berbagi kebahagian.
Ribuan
orang tersisa sekan melakukan hal sama. Tersenyum, teriak hingga memberi kabar
kepada mereka yang jauh di kampung. Tiba-tiba mike itu bersuara, mengatakan kami akan melanjutkan tes akademik
dan Pemantauan Mental Keperibadian sekarang juga. Dengan waktu tidak lebih dari
3 jam kami harus berkumpul dan menempati salah satu kursi ujian di Fakultas
Kedokteran Sumatera Utara. Ruangan yang bersih dengan cat putihnya yang tak
tercoret sedikitpun, berbeda dengan ruangan sekolah saya dulu. Memang tertata
rapi, karena merupakan satu-satunya Sekolah Menengah Atas di daerah saya. Tapi
cat putih yang bersih seakan-akan memberi ruang untuk tulisan-tulisan yang
tidak perlu.
Udara
panas sekan tak berani masuk menerpa kami, sebab dikalahkan oleh sejuknya AC
ruangan ini. Saya berfikir bahwa nyamannya mereka yang mengambil ilmu di sini,
pasti menyenangkan berada di ruangan ini untuk berfikir dan menulis. Tapi saya
yakin tidak memiliki kemampuan untuk menjadi salah satu mahasiswa pemilik salah
satu kursi di ruangan ini. Tapi lamunan itu seakan hilang oleh derap langkah
yang membagikan soal dan lembar jawaban kepada saya. Soal-soal ini dapat saya
selesaikan. Saya sekan optimis dengan apa yang saya jawab.
Ujian
pun berakhir, kami masih menunggu komando panitia sambil menikmati empuknya
kursi belajar mahasiswa kedokteran ini. Sekan hela nafas berkali-kali
terhembus, menikmati selesainya pertarungan hari ini. Tinggal meregangkan
tangan dan kaki menunggu kabar kapan hari diputuskannya kelulusan kami.
Seseorang pembawa kabar itu pun datang, harapan ayng tadinya berharap kabar ini
adalah kabar yang mengatakan hari pemberitahuan kelulusan kami ternyata salah.
Pembawa kabar ini ternyata mengatakan saat ini juga kami harus mengikuti tes
Pemantauan Mental Keperibadian di Auditorium Universitas Sumatera Utara.
Seketika
gedung Auditorium itu pun kami masukin, gedung yang cukup besar ini terlihat
tanpa tempat yang kosong oleh kami yang rakus akan cita. Sejenak saya berfiir,
mungkin gedung ini akan menjadi keseharian saya jika saya memilih bebas tes
saya. Mungkin saya akan menimkati berpakaian toga, bersandingkan ibu ayah saya.
Mendapatkan gelar sarjana dan menikmati kemeriahan bersama kawan-kawan saya.
Tapi lamunan itu kembali hilang, lagi-lagi oleh derap langkah dan lembaran soal
di depan saya. Saya pernah melihat soal ini, seperti soal ketangkasan di mata
pelajaran kewarganegaraan. Mengenai bagaimana seandainya kita menjadi seorang
polisi dan menangkap pencuri dengan berbagai kasus. Yang pasti saya menikmati
menjawab soal-soal ini.
Dan
ujian hari ini pun benar-benar selesai. Dua minggu waktu yang harus saya tunggu
untuk mendapatkan kepastian apakah saya lulus pada tahapan ini dan bisa kembali
ke tahapan dimana saya akan berpeluang mengejar cita saya atau malah terkapar
oleh kegagalan akan ujian ini.
Tidak
lulus. Kata itulah yang membuat saya merasakan beban yang sebenarnya. Saya
dipastikan gagal melangkah untuk tahapan selanjutnya meraih cita. Gagal sebagai
seseorang dalam memutuskan suatu pilihan. Ketidakberhasilan seorang pemuda
dalam menganalisis kemungkinan termudah diantara kemungkinan terburuk. Saya
gagal, gagal dan gagal. Keinginan saya memakai seragam taruna akhirnya kandas
diantara kebingungan saya mencari dimana letak sebenarnya kesalahan saya. Tes
akademik atau tes Pemantauan Mental Keperibadian. Apapun alasan dan penyebabnya
yang pasti saya gagal.
Saya
terlihat tanpa seseorang tanpa kegagalan, melakukan kegiatan tanpa ada masalah
dengan keperibadian. Seakan tak mengacuhkan kegagalan akan kalahnya saya
diantara ribuan orang lainnya yang mengejar keinginan yang sama. Semua terlihat
seperti biasa. Yah, itu hanya persepsi orang yang melihat saya dari luar.
Sementara dalam diri sekan terguncang meratapi kegagalan. Menyesakaan diantara
persiapan yang matang tapi jatuh diantara kaki tangga yang terlalu rendah. Saya
bahkan tidak pernha merasakan apa itu tes eksehatan, apa itu tes fisik.
Saya
gagal sebagai anak yang ingin menunjukan sisi keinginan untuk membanggakan
keluarga. Saya bimbang untuk melangkah kedepan. Akan jadi apa langkah ini tanpa
adanya kemenangan meraih cita. Apa yang akan sosok lemah ini banggakan tanpa
adanya sesuatu yang akan diperlihatkan untuk membungkam kesombongan orang lain.
Setengah
tahun waktu yang mungkin sudah cukup untuk saya benar-benar mengikis sedikit
keraguan yang semakin mengeras dalam diri ini. Tak ada yang datang menghibur,
tak ada yang berani menawarkan untuk berbagi kesediha. Tidak ada yang salah,
karena saya hidup dengan membanggakan dan menikmati kediaman saya. Kata-kata
tidak bermana karena banyaknya, tapi bermakna dengan kemampuannya memotivasi
yang lain. Saya hanya berfikir kenapa harus mengatkan yang tidak penting apalagi
mengatakan lelucon yang merusak pandangan orang kepada saya.
Sudahlah.
Cita-cita itu biarlah hilang. Seseorang berhak menentukan cita-cita lain dalam
dirinya. Seseorang dapat bermimpi untuk mendapatkan cita-citanya yang lain.
Saya tidak ingin terlalu banyak untuk bermimpi. Saya boleh memimpikan satu
cita-cita baru, tapi saya tidak ingin bercita-cita menjadi seorang pemimpi.
Hidup
tak kan berakhir dengan kegagalan cita. Hidup akan tetap berjalan layaknya
waktu yang tak pernah berakhir menemani kita yang kadang meringis oleh desakan
waktu. Cita layaknya sebuah mimpi diantara kenyataan, mimpi akan hilang saat
kita terbangun. Seseorang yang berhasil meraih cita berarti seseorang yang
berhasil membawa mimpi indah kedalam kenyataan hidup. Bahagianya mereka yang
merasakan indah mimpi diantara sukarnya kenyataan.
semngat ma!!!!
BalasHapuskam juga semangat...
Hapuskam baca nya ini semua jhon...
haha