Selasa, 06 Maret 2012

DIANTARA 50.000 TARUNA


(Cerita ini bagian ke 5 dari tulisan yang saya buat...)
Terik siang ini seakan tak memberi ruang untuk angin berhembus sedetikpun. Sangat panas, bahkan terlalu panas untuk diri yang terbiasa dengan dinginnya hari. Tak membiarkan keringat mengalir dengan bebasnya, tangan ini pun langsung mengenyahkannya dari permukaan kulit yang semakin kusam. Langkah ini pun terus berjalan sangat cepat, sampai saya bingung menamakan ini berjalan atau berlari. Sampai di tujuan, ribuan pemuda dengan kerakusan cita bercampur dengan ribuan orang lainnya yang telah menggunakan seragam polisi dan turut serta dalam  pertarungan ini.
Ruangan ini pun seakan risih menerima ribuan orang yang berebut untuk mencari angin, karena terlalu pengap untuk ribuan orang yang mengharap kelulusan. Tidak kurang dari 50.000 pemuda dari berbagai daerah mencoba mengejar citanya untuk menjadi seorang taruna kepolisian Republik Indonesia. Termasuk diri ini yang meninggalkan harapan lain untuk menikmati indahnya persaingan di Perguruan Tinggi Negeri.
Sebelum mengawali pilihan dengan cerita mencapai perjuangan mendapatkan satu nomor peserta untuk mengikuti tes calon taruna kepolisian, saya adalah salah satu siswa yang ingin mengejar cita diantara dilemanya pilihan. Hari yang tak membiarkan saya tenang sedikitpun, hari yang membuat saya harus berfikir sekeras mungin. Memilih yang telah ada di depan mata atau memilih cita yang masih jauh dari keta harapan. Hari pertama tes taruna akpol bersamaan juga dengan saya harus daftar ulang kelulusan mahasiswa bebas tes di Teknik Industri. Kebahagiaan diantara kebimbangan. Di saat saya yang mengingkan mengejar cita dan keharusan saya harus meninggalkan hasil akademik sebagai mahasiswa yang telah saya raih selama mengenyam pendidikan 12 tahun.
Pilihan saya jatuh pada keinginan saya meraih cita, ikut tes taruna akpol dan meninggalkan harapan menikmati persaingan diantara ribuan mahasiswa lainnya. Cita-cita seakan jawaban dari rinduan akan kemenangan sampai saya harus melupakan yang lainnya. Cita-cita seakan jawaban untuk menaikkan derajat keluarga, sampai saya harus melupakan bahwa tanpa cita-cita seseorang tetap memiliki masa depan. Diantara egonya diri dan keinginan tidak memberatkan keluarga yang cukup lama berjuang.
Cita-cita seakan tersenyum karena terpilih menjadi prioritas diantara harapan yang lain. Dengan angukuhnya cita-cita itu menggetarkan diri dengan sayupan kata-kata idah “bayangkan seorang taruna akpol dengan seragamnya berjalan diantara kawan yang lain”, “bayangkan betapa bahagianya keluarga melihat anak bungsunya berhasil meraih cita”, “lihat semua orang seakan terbungkam melihat pemuda yang kemarin hanya terendahnkan”. Cita-cita tak hentinya meyakinkan diri, bahwa inilah awal dimana masa depan akan dimiliki.
Ruangan ini seakan semakin memberi ruang, satu persatu nomor yang disebutkan bersamaan dengan beranjak perginya langkah-langkah yang menanti lama. Mereka yang keluar ruangan dinyatakan gugur, kami yang sisa di dalam ruangan dinyatakan lanjut ke tahapan selanjutnya. Sebuah keyakinan baru saya lulus pada tes pertama taruna akpol 2006, yaitu pada tes psikotes. Terlalu jumawa diri, terlalu yakin, padahal ini baru tahapan awal yang tak memastikan sepersenpun kemenangan untuk mecapai cita. Setidaknya bibir ini pernah mengerucut keatas, tersenyum bangga bisa mengalahkan ribuan orang lainnya. Bibir ini pun tak hentinya mengecup nomor kebanggan, meki hanya sehelai kertas kunging bertuliskan nama dan nomor pendaftaran saya, 9910. Nomor yang saya harapkan bisa melaju hingga pertarungan terakhir. Nomor yang saya inginkan menjadi suatu peruntungan. Meski sebenarnya sayang memberi peruntungan, karena peruntungan tak akan pernah lebih baik dari pertarungan.
Telfon genggam pun seakan tak ingin tertinggal dari gemetarnya diri ini merasakan kemanangan pertama. Telfon ini pun keluar dari saku, dan saya mengetik dengan cepatnya, menulis tulisan kebahagian bertulisakan bahwa aku lulus tes pesiokotes akademi kepolisian. Sebuah keinginan untuk berbagi kebahagian.
Ribuan orang tersisa sekan melakukan hal sama. Tersenyum, teriak hingga memberi kabar kepada mereka yang jauh di kampung. Tiba-tiba mike itu bersuara, mengatakan kami akan melanjutkan tes akademik dan Pemantauan Mental Keperibadian sekarang juga. Dengan waktu tidak lebih dari 3 jam kami harus berkumpul dan menempati salah satu kursi ujian di Fakultas Kedokteran Sumatera Utara. Ruangan yang bersih dengan cat putihnya yang tak tercoret sedikitpun, berbeda dengan ruangan sekolah saya dulu. Memang tertata rapi, karena merupakan satu-satunya Sekolah Menengah Atas di daerah saya. Tapi cat putih yang bersih seakan-akan memberi ruang untuk tulisan-tulisan yang tidak perlu.
Udara panas sekan tak berani masuk menerpa kami, sebab dikalahkan oleh sejuknya AC ruangan ini. Saya berfikir bahwa nyamannya mereka yang mengambil ilmu di sini, pasti menyenangkan berada di ruangan ini untuk berfikir dan menulis. Tapi saya yakin tidak memiliki kemampuan untuk menjadi salah satu mahasiswa pemilik salah satu kursi di ruangan ini. Tapi lamunan itu seakan hilang oleh derap langkah yang membagikan soal dan lembar jawaban kepada saya. Soal-soal ini dapat saya selesaikan. Saya sekan optimis dengan apa yang saya jawab.
Ujian pun berakhir, kami masih menunggu komando panitia sambil menikmati empuknya kursi belajar mahasiswa kedokteran ini. Sekan hela nafas berkali-kali terhembus, menikmati selesainya pertarungan hari ini. Tinggal meregangkan tangan dan kaki menunggu kabar kapan hari diputuskannya kelulusan kami. Seseorang pembawa kabar itu pun datang, harapan ayng tadinya berharap kabar ini adalah kabar yang mengatakan hari pemberitahuan kelulusan kami ternyata salah. Pembawa kabar ini ternyata mengatakan saat ini juga kami harus mengikuti tes Pemantauan Mental Keperibadian di Auditorium Universitas Sumatera Utara.
Seketika gedung Auditorium itu pun kami masukin, gedung yang cukup besar ini terlihat tanpa tempat yang kosong oleh kami yang rakus akan cita. Sejenak saya berfiir, mungkin gedung ini akan menjadi keseharian saya jika saya memilih bebas tes saya. Mungkin saya akan menimkati berpakaian toga, bersandingkan ibu ayah saya. Mendapatkan gelar sarjana dan menikmati kemeriahan bersama kawan-kawan saya. Tapi lamunan itu kembali hilang, lagi-lagi oleh derap langkah dan lembaran soal di depan saya. Saya pernah melihat soal ini, seperti soal ketangkasan di mata pelajaran kewarganegaraan. Mengenai bagaimana seandainya kita menjadi seorang polisi dan menangkap pencuri dengan berbagai kasus. Yang pasti saya menikmati menjawab soal-soal ini.
Dan ujian hari ini pun benar-benar selesai. Dua minggu waktu yang harus saya tunggu untuk mendapatkan kepastian apakah saya lulus pada tahapan ini dan bisa kembali ke tahapan dimana saya akan berpeluang mengejar cita saya atau malah terkapar oleh kegagalan akan ujian ini.
Tidak lulus. Kata itulah yang membuat saya merasakan beban yang sebenarnya. Saya dipastikan gagal melangkah untuk tahapan selanjutnya meraih cita. Gagal sebagai seseorang dalam memutuskan suatu pilihan. Ketidakberhasilan seorang pemuda dalam menganalisis kemungkinan termudah diantara kemungkinan terburuk. Saya gagal, gagal dan gagal. Keinginan saya memakai seragam taruna akhirnya kandas diantara kebingungan saya mencari dimana letak sebenarnya kesalahan saya. Tes akademik atau tes Pemantauan Mental Keperibadian. Apapun alasan dan penyebabnya yang pasti saya gagal.
Saya terlihat tanpa seseorang tanpa kegagalan, melakukan kegiatan tanpa ada masalah dengan keperibadian. Seakan tak mengacuhkan kegagalan akan kalahnya saya diantara ribuan orang lainnya yang mengejar keinginan yang sama. Semua terlihat seperti biasa. Yah, itu hanya persepsi orang yang melihat saya dari luar. Sementara dalam diri sekan terguncang meratapi kegagalan. Menyesakaan diantara persiapan yang matang tapi jatuh diantara kaki tangga yang terlalu rendah. Saya bahkan tidak pernha merasakan apa itu tes eksehatan, apa itu tes fisik.
Saya gagal sebagai anak yang ingin menunjukan sisi keinginan untuk membanggakan keluarga. Saya bimbang untuk melangkah kedepan. Akan jadi apa langkah ini tanpa adanya kemenangan meraih cita. Apa yang akan sosok lemah ini banggakan tanpa adanya sesuatu yang akan diperlihatkan untuk membungkam kesombongan orang lain.
Setengah tahun waktu yang mungkin sudah cukup untuk saya benar-benar mengikis sedikit keraguan yang semakin mengeras dalam diri ini. Tak ada yang datang menghibur, tak ada yang berani menawarkan untuk berbagi kesediha. Tidak ada yang salah, karena saya hidup dengan membanggakan dan menikmati kediaman saya. Kata-kata tidak bermana karena banyaknya, tapi bermakna dengan kemampuannya memotivasi yang lain. Saya hanya berfikir kenapa harus mengatkan yang tidak penting apalagi mengatakan lelucon yang merusak pandangan orang kepada saya.
Sudahlah. Cita-cita itu biarlah hilang. Seseorang berhak menentukan cita-cita lain dalam dirinya. Seseorang dapat bermimpi untuk mendapatkan cita-citanya yang lain. Saya tidak ingin terlalu banyak untuk bermimpi. Saya boleh memimpikan satu cita-cita baru, tapi saya tidak ingin bercita-cita menjadi seorang pemimpi.
Hidup tak kan berakhir dengan kegagalan cita. Hidup akan tetap berjalan layaknya waktu yang tak pernah berakhir menemani kita yang kadang meringis oleh desakan waktu. Cita layaknya sebuah mimpi diantara kenyataan, mimpi akan hilang saat kita terbangun. Seseorang yang berhasil meraih cita berarti seseorang yang berhasil membawa mimpi indah kedalam kenyataan hidup. Bahagianya mereka yang merasakan indah mimpi diantara sukarnya kenyataan.

2 komentar:

  1. Balasan
    1. kam juga semangat...
      kam baca nya ini semua jhon...
      haha

      Hapus